Belum lama, saya pergi ke daerah Menteng, Jakarta Pusat. Sekedar nongkrong lah, maklum anak muda. Waktu itu weekend, jadi ngga heran kalau Menteng penuh muda-mudi gaul Jakarta.
Ada yang asik pacaran, makan di pinggiran, latihan shuffle dance, atau cuma sekedar keliling-keliling taman. Saya dan teman saya (kami ber-empat) memilih nongkrong di 711 Menteng, karena kebetulan (salah satu teman saya bawa netbook) waktu itu nyari wifi untuk on-line.
Singkat cerita ketika kami sedang asik ngobrol, mata selalu celingukan memperhatikan para kaum hawa yang wara wiri keluar masuk sevel. Maklum cowok. Ada yang sama pacaranya, atau sama temannya sesama wanita. Tapi mata saya terbelalak, ketika melihat dua orang wanita yang (saya yakin sekali) masih sekolah tingkat SMP. Bukan karena mereka sangat cantik (ya memang cantik sih) atau mereka berdua berpakaian seksi, tapi.. Saya melirik jam yang ada di handphone saya; 01.37. My godness. In this time? In early morning? Mereka ada diluar rumah selarut ini? Apa ngga dicari orang tuanya? Apa mereka nggak khawatir dengan keselamatannya?
Dan kalian tau, ternyata bukan cuma mereka berdua anak di bawah umur yang masih “kelayaban” , ada banyak juga loh yang masih “nge-gaul” selarut ini. Ada yang salah. Pikir saya waktu itu.
Melihat banyaknya anak dibawah 17 tahun yang masih berkeliaran diluar rumah, membuat saya membandingkan ketika saya ada di umur yang sama seperti mereka. Apa yang saya lakukan? Tidur. Normal. Hal yang wajar dilakukan oleh anak-anak ‘kecil’ dilarut malam. Saya jadi heran juga, kenapa ya mainan-mainan ketika saya kecil sudah jarang sekali terlihat? Mainan seperti layangan, kelereng, tamiya, atau mainan-mainan lain yang umum saya temui ketika saya masih umur belasan. Pun, saya juga tidak lagi melihat permainan tradisional semacam petak umpet, polisi-maling, tak benteng, atau mainan tradisional lainnya dimainkan oleh anak-anak zaman sekarang. Mereka lebih memilih main game online tembak-tembakan. Ya okelah,,, tapi kalian (adik-adik kecil) juga harus merasakan sensasi lari seperti maling yang sedang dikejar polisi, atau ‘ngumpet’ ketika teman kalian sedang ‘jaga’.
Sepertinya, acara-acara televisi sekarang juga ikut mempengaruhi perkembangan anak dari zaman ke zaman. Zaman saya dulu, tiap acara diberi label mana yang harus ditonton oleh anak-anakdan mana yang tidak. Mana yang harus ditayangkan, dan mana yang tidak. Dulu, acara televisi (menurut saya) lebih berkualitas dibanding sekarang. Anak-anak diberi hiburan yang sesuai dengan umurnya. Dulu ketika weekend, saya rela bangun pagi demi menonton kartun favorit saya (detective Conan). Sekarang? Ucapkan salam kepada sinetron penuh drama, acara-acara alay, atau gosip murahan dari artis yang tidak terkenal. Farkk!!
Apa karena perkembangan zaman semua berubah begitu cepat? Anak-anak yang seharusnya bermain sesuai umur malah bertingkah supaya terlihat lebih dewasa. Anak kecil tidak lagi main-mainan anak kecil. Mereka bertingkah seperti orang dewasa. Pacaran, nge-gaul, nge-eksis, hal-hal yang umumnya dilakukan oleh orang dewasa, mereka mulai sedari dini. Saya prihatin (uhukk), saya takut kalau kalau mereka berkembang menjadi pribadi yang sombong. Saya khawatir ketika mereka dewasa, mereka jadi sok pamer, berlebihan, atau zaman sekarang lebay. SAya takutnya ketika kalian sudah di usia produktif, kalian terjangkit penyakit yang namanya MKKB (Masa Kecil Kurang Bahagia) karena kalian (bersikap sok) dewasa sebelum waktunya.
Jangan jadi manusia pragmatis, nikmatilah proses. Yang namanya evolusi itu berjalan lambat. Jangan khawatir tidak menjadi dewasa. Karena semua pasti ada saatnya. Percayalah, masa anak-anak atau ABG adalah masa-masa yang sangat indah. Kalian hanya perlu bersenang senang dan bersenang-senang. Nikmati saja.
Dan lamunan saya tentang masa kecil saya terusik, ketika salah satu teman saya menawari saya minum. Ahhhh "kaulah lamunan"
